Mengingat kenangan yang terukir di kalbu ini membuatku semakin merindukanmu.
Kau sosok yang aku jadikan tempat bertumpu.
Kau sosok yang mengatakan "iya" untuk melengkapi kebutuhanku.
Meninggalkanmu sendiri di sana saat itu, langkah kaki ini sangatlah berat untuk ucapkan perpisahan.
Meninggalkanmu dalam kesendirian yang begitu gelap, namun ku harap Tuhan memberimu teman di sana.
Jogja adalah kota dimana kau mengantarkanku untuk menimba ilmu.
Kota yang kau percayakan bisa membuatku menjadi anak yang pintar dan sukses.
Karena kau dengan gagahnya dan percaya akan kesungguhan anak gadismu ini.
Saat aku menulis ini, aku sudah bekerja sebagai seorang dosen dengan menamatkan S2-ku dalam waktu 1 tahun 3 bulan di Universitas Gadjah Mada yang sangat di impikan oleh bapakku agar anaknya bisa bersekolah disana, I did it.
Aku lihat pancaran kebanggaan itu kala kau hadiri wisudaku setahun yang lalu.
Ini fakta yang aku berikan padamu bapak. Bahwa kota ini menjadikanku pintar dan sukses seperti yang kau mau.
Bukan, bukan kota ini, tapi faktanya adalah kaulah sang pahlawanku, mamak sebagai peneduhku, motivasi terbesarku, kekuatan lahir bathin-ku yang membuatku mampu bertahan.
Kalau ku ingat kembali dulu saat kau mengantarku.
Saat itu aku menangis.
Bagiku itu adalah saat dimana ternyata meninggalkan rumah untuk merantau, dan memulai hidup mandiri ternyata sangat menguras emosi.
Perjalananku di kota ini menempatkanku di dua sisi, baik dan buruk.
Semua prosesnya aku jalani, aku syukuri, walaupun ada sisi gelap penyesalan jika saja waktu bisa kuputar.
Perjalananku di kota ini di sudut-sudut jalan kota ini, di sepanjang jalan, di bangunan-bangunan kota ini, ada torehan ingatan akan engkau bapak.
Hari ini kutuliskan untuk pertama kalinya tentang perasaan yang hadir sejak kau tiada, yang aku sendiri tak tau perasaan apakah ini, sedih, gelisah, kehilangan, semangat, entahlah.
Perasaan yang aku coba tutupi, kubiarkan saja, aku anggap biasa-biasa saja.
Perasaan yang mendorongku untuk teriak, liar, melawan, memberontak, bebas, frustasi dan amarah.
Perasaan yang menjebakku dalam cinta fana, kesenangan sesaat, terlena, dan merasa bodoh.
Perasaan yang campur aduk tersebut aku rasakan sejak kau pergi, tanpa kusadari bahwa selama ini kau lah pelipur segala gundah, rasa tak tentu arah, dan kusematkan kau sebagai tumpuanku.
Bapak,
Bintang di langit mungkin tak sanggup menunjukkan terang cahaya nya untuk mewakili perasaan rinduku.
Rumput yang memanjang lalu sudah layu dan kembali menghijau seperti rinduku yang terkadang diam karena kesibukan, lalu bergerak muncul lagi dan terkadang sulit kukendalikan.
Usiaku memasuki 24 tahun.
Entah sejak kapan aku mulai "mencari".
Aku berkelana mencari tumpuan baru.
Aku berkelana hingga aku tersesat sendiri.
Ternyata aku masih terlalu mentah memaknai perasaanku sendiri.
Ternyata aku masih terlalu hijau memaknai apa itu cinta.
Karena aku pernah gagal dalam menjalani hubungan yang aku kira sudah matang, namun ternyata masih mentah.
Tapi sekalipun begitu, aku terus berkelana.
Menemukan tumpuanku yang paling tidak bisa mendekati sosokmu.
Belum kutemukan.
Bahkan aku sudah mencoba.
Belum ada.
Belum ada yang sepertimu bapak.
Mungkin bukan di kota ini, entahlah.
Mungkin juga ia akan datang sendiri, entahlah.
Belakangan aku menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kau kuasai, kau kontrol, tapi hanya bisa kau usahakan dan terus berharap yang terbaik dari Tuhan.
Yaitu: tumpuan hidupku kelak.
Tapi setelah kurenungkan kembali, Tuhan memang sangat misterius.
Ia mempertemukan dengan sekian laki-laki yang beragam karakter, lalu datang dan pergi, tapi belum kutemui penjelasan apa yang ingin Dia sampaikan kepadaku dengan membiarkanku berkelana.
Namun hari ini aku sangat bersyukur diberikan laki-laki yang menghiburku selalu di kala ku sedih lelah, dan patah hati, yaitu adik-adikku.
Tuhan itu memang Maha Asik, teman.
Bapak,
pesanmu ketika kau hidup dulu selalu ku ingat.
Temani aku terus walau kau tak lagi di dunia ini.
Tolong jaga aku Tuhan
Jaga Bapak, Mamak, dan Adik-adikku.
Tolong halangi aku dari perbuatan bodoh yang mungkin aku bisa lakukan.
Tolong jangan tinggalkan aku dalam kesendirian.
Sungguh kesendirian itu menguatkan namun melelahkan.
(3 Juni 2018, Puasa Ramadhan ke-18, Pukul 01.02)
Sabtu, 02 Juni 2018
Sabtu, 24 Februari 2018
Telaga Ngebel di Ponorogo: Wisata Alam yang Memiliki Nilai Historikal Tapi Murah Meriah
Ponorogo, 23-25 Februari 2018
Edisi: International Conference Al-Quds di UNIDA Gontor+ Nyambi Travelling
Ponorogo terkenal dengan sebutan Kota Reog. Saya berkesempatan mengunjungi kota ini bersama adik saya karena kebetulan akan menghadiri konferensi di UNIDA Gontor. Tak membuang kesempatan ini, saya sempatkan untuk menjelajahi keindahan alam Ponorogo yang cukup terkenal yakni Telaga Ngebel.
Lokasi Telaga Ngebel sendiri sekitar 1 jam dari pusat kota.
Bisa ditempuh dengan go-car karena lebih nyaman tapi mungkin agak mahal.
PP sekitar 200 ribuan. Alternatif lain mungkin temen-temen bisa menggunakan motor pribadi atau sewaan.
Setibanya di lokasi, saya dan adik di sambut dengan pemandangan hehijauan dan air telaga yang luar biasa indah, airnya tenang tidak bergelombang, dan pada saat itu volume air sedang tinggi, jadi dari jalan raya itu sangat dekat sekali.
Kita juga akan disambut dengan jajakan makanan laut (gurame, nila, kakap dkk) hingga jejeran durian yang siap santap. Oh iya, wisatawan tak usah risau untuk kebersihan toilet sangat terjamin.
Wisata alam Telaga Ngebel terletak di kaki Gunung Wilis. Cuacanya sangat alami dan sejuk, namun medan menuju lokasi ini berkelok-kelok dan kondisi jalan yang sempit mewajibkan pengemudi ekstra hati-hati, apalagi jika di tikungan.
Wahana wisata yang ditawarkan di Telaga Ngebel yaitu SpeadBoot, harganya untuk trip yang biasa Rp. 60.000,- sedangkan yang ekstra Rp. 100.000,-
Saya memilih paket ekstra karena kita akan mengelilingi tepian seluruh telaga sampai puas, memakan waktu 30 menitan.
Kita juga bisa request mau ngebut atau pelan saja.
Speetboat sendiri memang kepunyaan warga setempat sejak 2009.
Kita juga bisa memilih wahana lain yaitu kereta kapal yang disediakan pemerintah daerah sejak 2004, sayangnya kereta kapal ini beroperasi jika kuota penumpang sudah mencukupi.
Owh ya, tidak perlu cemas jika mau poto-poto selfie/wefie, si bapak speedboat dengan cekatan akan memotret Anda (tanpa biaya tambahan).
Selama perjalanan menikmati keindahan telaga dan percikan air dengan hembusan angin yang sejuk, saya bercakap-cakap dengan si bapak pengemudi speedboat (sayangnya saya kelupaan nanya nama si bapak) tentang seluk beluk Telaga Ngebel. Berikut hasil wawancara saya:
1. Telaga Ngebel adalah telaga yang terjadi secara alamiah karena letusan Gunung Wilis yang akhirnya mengeluarkan air, memiliki kedalaman hampir 48 meter, dibuat sistem perairan buka tutup agar mampu mengatur masuknya air, apabila air tinggi maka dari pintu masuk ditutup. Bendungannya sendiri adalah bekas peninggalan Belanda dulu, sedangakan untuk terowongan airnya dibuat oleh Jepang. "Itu loh mbak yang disana pembatas jembatan yang dibuat pemerintah wes longsor, padahal baru 2 tahun dibangun".
2. Telaga Ngebel juga menjadi tempat sakral dimana akan di selenggarakan acara sakral Larungan dengan membuat semacam tumpeng dari ketan, dan juga disertakan buah-buahan. Termasuk di malam satu suro akan dilaksanakan ritual di Telaga Ngebel. Setiap 2 bulan sekali akan diselenggarakan penampilan Reog Ponorogo untuk memikat wisatawan.
3. Di Telaga Ngebel sendiri dihuni oleh beragam jenis ikan, tetapi ada ikan ciri khasnya sendiri namanya Ikan Ngongok, kata si bapak bentuknya mirip ikan bandeng. Tak kalah mencengangkan, hidup juga ikan Patin seberat 36 kilo. Dan di beberapa kesempatan ikan Patin ini akan ke permukaan melompat-lompat. Sayangnya pas saya kesana, ikannya agaknya malu menampakkan diri.
4. Di sekeliling Telaga Ngebel dikelilingi hutan lindung dibawah tanggung jawab Perhutani. Si bapak mengklaim hutan dan tekstur tanah aman dari longsor karena pepohonan lebat, dilarang ditebang karena hutan lindung.
5. Jika kita datang pada musim kemarau maka puncak bukit yang tertutup air di kedalam 12 meter akan keliatan.
6. Si bapak juga mengatakan bahwa kedalaman air di Telaga Ngebel terdapat dua titik tempat yang belum bisa di deteksi oleh sonar (sonar sendiri hanya mampu mengukur kedalaman air sedalam 60 meter), prediksi petugas saat itu terdapat sungai dibawah kedalam 60 meter, hingga sekarang belum bisa dipastikan.
7. Jika temen-temen melihat mesjid berkubah warna emas, nah itu merupakan mesjid pertama yang ada di Telaga Ngebel.
Itulah beberapa poin hasil wawancara saya dengan si bapak.
Sangat menyenangkan bisa refresh mata dan pikiran sekaligus menambah wawasan baru tentang seluk beluk Telaga Ngebel.
Sekian.
Senin, 12 Februari 2018
LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Amerika dan Eropa
Sejarah,
Trend, dan Agenda Politik Amerika dan
Beberapa Negara Eropa Menyoal Diskursus LGBT
Penulis: Tiffany Setyo Pratiwi
Februari 2018
Dari literatur yang Penulis
dapatkan, penamaan LGBT dalam sejarahnya belum ada. Sehingga yang banyak ditemukan
ialah homoseksual, lesbian, ataupun gay. Eropa dan Amerika bisa dikatakan
menjadi tempat dimana isu-isu tersebut mulai dikenal. Berikut sejarah
singkatnya.
Sejarah adanya kaum
homoseksual ataupun LGBT di Eropa mulai ada bahkan sejak Era Renainanse, seorang
peneliti bernama Giovanni yang mencoba mempelajari tentang homoerotics motif menjadi tokoh yang memperkenalkan isu ini. Namun konseptualisasi homoseksual di
Eropa sebenarnya mulai teramati dengan jelas saat memasuki abad ke-18, tepatnya
di Inggris. Dan beberapa percaya bahwa munculnya konsep homoseksual juga
dilatarbelakangi dengan maraknya penganut atheis. Di era ini, homoseksual,
lesbian termasuk dosa besar bagi gereja Katolik-Protestan sehingga masih sangat
tabu untuk dibicarakan.
Baru memasuki abad ke-19
terjadi perubahan terhadap perkembangan isu LGBT, yang mana untuk pertama
kalinya pergerakan masyarakat sipil homoseksual lahir di Jerman. Sama halnya di
Inggris kesadaran pergerakan mendukung homoseksual mulai tercium dengan diluncurkannya
sebuah drama komedi bertemakan homoseksual oleh Oscar Wilde di tahun 1895.
Setelah Perang Dunia Ke-1, Paris menjadi kota dimana kaum gay dan lesbi
intelektual dunia berkumpul bahkan termasuk yang dari Amerika. Pertemuan mereka
menghasilkan banyak tulisan yang isinya tentang variasi seksual, penulis yang
cukup terkenal bernama Gertrude Stein. Kesadaran untuk memperjuangkan hak
homoseksual semakin besar pasca peristiwa fenomenal di Jerman yakni Holocaust,
yang memakan korban hampir jutaan kaum homo di bunuh di kamp konsentrasi.[1]
Agak berbeda dengan Eropa,
di Amerika ternyata homoseksual sudah terdeteksi menjadi perilaku di kalangan
masyarakat adatnya yakni orang India dan orang Eskimo, banyak di antaranya yang
memiliki tradisi homoseksual sendiri, disebut berdache. Memasuki pertengahan abad ke-19 berbarengan dengan
masuknya imigran dari negara-negara Eropa (Inggris, Jerman, Irlandia, Italia, Perancis,
Yunani, dan orang-orang Skandinavia) dan budak dari Afrika ke Amerika ternyata
memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan homoseksual di Amerika
sendiri.
Di tahun 1919, media massa
di Amerika mulai menyebarluaskan konsep tentang pemikiran atau ide ide
Androphillia (Androphilia dan gynephilia adalah istilah yang digunakan dalam
ilmu perilaku untuk menggambarkan orientasi seksual, sebagai alternatif dari
konseptual homoseksual gender dan heteroseksual gender).[2] Namun berbeda dengan posisi
media massa yang mendukung isu-isu homoseksual, bagi pasukan tentara yang
bertarung di Perang Dunia ke-2, mereka menolak mentah-mentah adanya homoseksual
dan lesbian.
Di dalam bukunya Susan Ferentinos seorang
peneliti yang berfokus pada isu-isu LGBT, memaparkan pertumbuhan mobilisasi
pendukung LGBT sangat signifikan sejak tahun 1960 yakni gerakan pembebasan gay
dan lesbian Stonewall, yang juga berbarengan dengan The Black People Movement.[3] Namun, berkembangnya dukungan isu homoseksual di
Amerika ternyata juga berbanding lurus dengan penolakan yang datang. Apalagi di
tahun 1980-an, terjadi lonjakan cukup tajam angka penderita AIDS di Amerika
yang mana di sumbang dari kaum homoseksual.[4]
Lalu bagaimana trend LGBT begitu meluas di abad ke-21 ini baik di Eropa dan
Amerika bahkan menjadi isu yang mendunia. Hal penting yang mendukung fenomena
global ini ialah mobilisasi pendukung HAM LGBT sangat meluas dan bisa dikatakan
menyasar seluruh dunia. Namun suara mereka bukan hanya diungkapkan dalam jangka
waktu setahun atau dua tahun akan tetapi sudah dilakukan jauh sebelum itu
seperti yang Penulis jelaskan di paragraf sebelumnya. Faktor lain meningkatnya
kesadaran pentingnya hak LGBT dalam beberapa tahun terakhir bisa sangat mungkin
karena pendapat publik saat ini tumbuh jauh lebih toleran daripada sebelumnya.
Namun pendapat publik yang lebih toleran ini sebelumnya dipengaruhi juga dengan
situasi ekonomi dan politik yang mulai berubah secara dramatis di tahun 1970-an,
yang mana membantu memberikan suara politik yang lebih kuat kepada kaum LGBT. Secara
khusus, aktivis LGBT di New York City telah menjelma menjadi kekuatan yang
sangat signifikan dalam politik elektoral sejak pertengahan 1970-an. Fakta
menarik lainnya, kekuatan LGBT di Amerika bahkan bisa menembus Gedung Putih dan
pemilihan Senat di tahun 1990-an.[5]
Tidak bisa dipungkiri bahwa memang lobi-lobi
politik kelompok kepentingan merupakan suatu hal yang biasa ditempuh dengan
maksud agar suara ataupun keinginan kelompok kepentingan tersebut bisa
terealisasi, entah itu lewat kebijakan atau undang-undang yang dikeluarkan
pemerintah. Hal inilah yang menjadi salah satu cara yang ditempuh kelompok
homoseksual di Amerika. Bahkan menjadi pendukung Kelompok Kiri Amerika (American Left), tokoh yang berpengaruh dalam
lobi politik soal hak LGBT di Amerika diantaranya ada Tim Gill seorang milyader
perusahaan software, menjadi sosok yang kental membangun strategi di tingkat nasional
untuk mendukung hak-hak kaum gay LGBT. Nama lain ada David Geffen yang juga
mendonasikan uangnya untuk mendukung hak-hak LGBT. Faktor penting lainnya karena
semakin dikenalnya Pop Culture dan Hollywood,
yang secara nyata berperan membuat 89% masyarakat Amerika saat ini menerima
homoseksual sebagai hal yang normal di kehidupan seksual mereka bahkan untuk
pernikahan.[6]
Sudah banyak negara bagian di Amerika seperti Connecticut, Columbia, Iowa,
Vermount, New Hamphire, New York, California, Nevad, New Jersey, Oregon, dan Washington
memperbolehkan pernikahan sesama jenis dan memberlakukan hukum same-sex unions.[7]
Belanda jauh lebih dulu melegalkan pernikahan sesama jenis di tahun 2001 lalu
diikuti negara Eropa lainnya.
Secara
terang-terangan ketika pemilu Presiden Amerika di tahun 2000, baik kandidat
dari Partai Demokrat dan Republik sama-sama menggunakan isu LGBT dalam kampanye
mereka.[8]
Hal ini cukup beralasan karena untuk menggapai pemilih-pemilih yang pro-LGBT. Fakta
menarik lainnya yang membuat LGBT sangat dipertimbangkan dalam agenda politik
Amerika karena fundraisers LGBT
sangatlah kooperatif dalam setiap pemilihan Presiden Amerika. Contohnya saja
ketika Clinton mencalonkan diri sebagai kandidat Presiden dari Partai Demokrat,
pendukung LGBT yang mendukung Clinton mempu mengumpulkan dana hampir 900.000
dollar Amerika.[9]
Sehingga tidak mengherankan saat ini agenda politik Amerika salah satunya yang
berpengaruh ialah perlindungan HAM LGBT. Karena situasi tersebut juga sama
halnya ketika pemilihan Presiden Obama, yang juga membawa isu-isu LGBT sebagai
agenda politiknya karena konstituen gay dan lesbian yang mendukung Demokrat
jumlahnya tidaklah sedikit.[10]
Gambaran ini menunjukkan kaum gay dan lesbian bisa memiliki posisi tawar yang
signifikan di perpolitikan Amerika karena pemilihnya dan isu yang dibawa di
kerangkai oleh konsep HAM global.
Jika menilik di Benua Eropa, hal penting yang
membuat agenda politik terkait LGBT mulai terbuka dikarenakan terbitnya aturan
orientasi seksual di klause anti diskriminasi Artikel Nomor 13 di Perjanjian
Amsterdam EU tahun 1990. Artikel ini
menjadi aturan hukum pertama kalinya yang secara eksplisit mengatur masalah
orientasi seksual yang tidak boleh di diskriminasi.[11]
Setelah adanya aturan SSU (Same-sex
Unions), HAM Eropa secara keseluruhan kemudian negara-negara di Eropa
mengadopsinya ke dalam agenda politik nasional mereka. UK sendiri telah
mengadopsi SSU di tahun 2004. Menurut laporan dari World Values Online Integrated, persentase toleransi terhadap
homoseksual di UK setelah pemberlakuan SSU meningkat yang awalnya 16% menjadi
22% di tahun 2006.[12]
Sehingga memasuki abad ke-21, bukanlah hal yang aneh jika pernikahan sesama
jenis menjadi agenda di Eropa dan Amerika.[13]
Dengan menggunakan konsep hak asasi manusia
institusi tertentu atau bahkan pemerintah baik di Eropa dan Amerika yang
memiliki kemauan dan kemampuan untuk didengarkan, menempatkan isu LGBT sebagai
isu krusial dalam agenda politik mereka. Hak kaum LGBT telah muncul sebagai isu
penting di kancah internasional. Contoh yang terjadi di UK sebagai bukti, pada
tahun 2011, Perdana Menteri Inggris David Cameron menyarankan untuk mencabut
bantuan luar negeri ke negara-negara sesuai dengan kepatuhan mereka terhadap
hak asasi manusia, termasuk bagaimana mereka memperlakukan orang-orang gay dan
lesbian. Di media Barat, negara-negara Afrika dan Islam menjadi negara sebagai lawan
agenda politik tersebut.[14]
Pencantuman isu hak gay dan lesbian pada
agenda hak asasi manusia internasional telah tersebar di banyak negara di
dunia. Sayangnya gerakan gay dan lesbian tidak diterima oleh masyarakat internasional
secara keseluruhan. Meskipun demikian, gerakan tersebut telah mencapai keberhasilan
dalam mengakses banyak negara-negara Barat dengan sistem demokrasi melalui Uni
Eropa dan mampu masuk dalam agenda politik Uni Eropa. Bahkan PBB telah merilis
UN Report tentang hak LGBT oleh High
Commissioner for Human Rights yang disahkan tahun 2011. Yang tak boleh
dilupakan pula ialah bagaimana sepak terjang LSM lokal gay dan lesbian yang
meningkatkan posisi penting isu LGBT di Eropa dan dunia. Misalnya saja, LSM
lokal LGBT di Eropa Tengah dan Timur yang mana telah menempatkan posisi mereka
mampu di dengar dalam forum internasional dan mampu mendapatkan dukungan luar
biasa dari LSM internasional.[15]
Pencapaian lainnya, mereka telah memiliki institusi internasional sendiri
bernama International Gay and Lesbian
Youth Organization (IGLYO) yang sudah memiliki kantor permanen di ibukota
Solvenia, Ljubljana.[16]. Perdebatan tentang HAM LGBT
tentu masih ada, namun Amerika dan Eropa menjadi bukti bahwa proses untuk
menerima hak LGBT mengalami peningkatan yang sangat besar dari tahun ke tahun
di berbagai bidang, baik itu kultur sosial hingga agenda LGBT yang mampu
menjadi agenda politik negara-negara di Eropa dan negara bagian di Amerika.
[1] Dynes, Wayne. Stephen
Donalson. 1993. History of Homosexuality
in Europe and America. Penerbit: Routledge. Hal. xv-xvii
[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Androphilia_and_gynephilia diakses pada tanggal 28
Januari 2018 Pukul 11.00
[3]
Ferentinos, Susan. 2014. Interpreting
LGBT History at Museums and History Sites. Penerbit: Rowman and
Littelefield. Hal.77
[4] Dynes, Wayne. Hal.
xvii-xix
[5]
Smith, A. Reymond. Donald Markel. 2002. Gay
and Lesbian Americans and Political Participation. Penerbit: ABC-CLIO
California. Hal. 144 dan 155
[6]
Deace, Steve. 2016. Rules for Patriots:
How Conservatives Can Win Again. Penerbit: Newyork Post Hill Press. Hal. 16
[7] Brym. J. Robert. John
Lie. 2012. Sociology: Pop Culture to
Social Culture. Penerbit: Wadsworth USA. Hal. 245
[8] Smith, A. Reymond. Hal.
148
[10]
Harris, Frederick. 2012. The Price of
Ticket: Barack Obama and The Rise and Decline of Black Politic. Penerbit:
Oxford University Press. Hal.-
[11]
Kollman, Kelly. The Same Sex Unions
Revolution in Western Democracy: International Norms and Domestic Change.
Penerbit: Oxford University Press. Hal 77
[12] Kollman, Kelly. Hal. 80
[13] Bardes. A Barbara, dkk.
2016. American Government and Politics Today.
Penerbit: Cengage Learning USA Hal.381
[14] Evans, Mary. Dkk. 2014.
The SAGE Handbook of Feminist Theory.
Penerbit: SAGE Publishing. Hal. 298
[15] The Fletcher Forum of
World Affair, 1998. Volume 22. Hal. 81
[16] Sears, T. James. 2005. Youth, Education, and Sexualities.
Penerbit: Greenwood Publishing Group. Hal. 308
Jumat, 09 Februari 2018
Kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Teknologi Yogyakarta
Bagi teman-teman yang sekarang sedang duduk di kelas 3 SMA, yang sebentar lagi menghadapi Ujian Akhir (UAN), semoga di mudahkan menjawab soal-soalnya dan mendapatkan nilai terbaik. Amin. Tentunya teman-teman pasti sudah mempersiapkan apa yang akan dilakukan setelah tamat. Mungkin ada yang akan bekerja langsung, dan tidak sedikit pula yang mulai memilih untuk melanjutkan kuliah.
Yogyakarta menjadi kota dengan daya tarik luar biasa bagi pelajar se-Indonesia untuk melanjutkan jenjang sarjananya. Yogyakarta mempunyai segudang pilihan untuk pelajar yang berminat melanjutkan kuliahnya. Baik kampus negeri dan swasta tersedia, sekolah tinggi dari kesehatan hingga pertanahan pun tersedia disini. Destinasi utama mereka tentunya kampus biru Universitas Gadjah Mada. Memang kampus yang satu ini tidak lekang oleh jaman, mau jaman saya dulu sampai sekarang tetap nomor wahid. Sayangnya tidak bisa semua berkuliah disini.
Tapi tenang saja, alternatif kampus lain yang oke dan juga bagus untuk kamu menimba ilmu salah satunya Universitas Teknologi Yogyakarta. Kampus ini berlokasi di Ringroad Jombor, memiliki beragam jurusan, Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Sipil, Manajemen, Akutansi, Bahasa Jepang, Bahasa Inggris, Bimbingan Konseling, Psikologi, Komunikasi dan yang satu ini adalah jurusan baru yang ditawarkan yaitu Ilmu Hubungan Internasional (HI) yang sejak 2016 sudah dibuka.
Berbeda dengan jurusan HI dikampus lainnya, HI UTY menawarkan konsentrasi berbeda yaitu berfokus pada diplomasi ekonomi. Adapun mata kuliah yang ditawarkan di Prodi Ilmu Hubungan Internasional diantaranya:
1. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional
2. Ide-ide Politik
3. Teori Hubungan Internasional
4. Demokrasi dan HAM
5. Resolusi Konflik
6. Migrasi Internasional
7. Diplomasi Ekonomi Uni Eropa
8. Diplomasi Ekonomi Amerika
9. Diplomasi Ekonomi Asia Tenggara
10. Kajian Strategis dan Keamanan
11. Politik Luar Negeri Indonesia
12. Sejarah Dunia
13. Perbandingan Politik
dan masih banyak lagi
Menarik banget kan mata kuliahnya?
Apalagi ditambah dosen-dosen yang mengajar sudah memiliki bidang kajiannya masing-masing sehingga mahasiswa akan mendapatkan proses pembelajaran yang segar dan update. Proses belajar di kelas juga akan mendatangkan pemateri dari luar negeri, hal ini dilakukan guna memberikan informasi dan ilmu yang lebih mendalam, sehingga mahasiswa akan mendapatkan pengetahuan lebih luas lagi. Seminar dan Workshop juga rutin dilakukan untuk memfasilitasi mahasiswa dalam belajar.
Soal biaya, per-semester HI nya juga sangat terjangkau, kira-kira berkisar 3-jutaan dengan biaya SKS 125.000 rupiah, dibandingkan dengan biaya kampus lain yang jauh lebih mahal.
Untuk pendaftaran mahasiswa baru, teman-teman bisa datang langsung ke Bagian Penerimaan Mahasiswa Baru UTY di Jalan Ringroad Jombor Yogyakarta atau langsung kunjungi website resminya di http://uty.ac.id atau https://pmb.uty.ac.id
Calon mahasiswa akan mengikuti tes masuk yang diselenggarakan UTY.
Semoga informasi ini bermanfaat.
The Development of Indigenous People Rights to Their Land through Political Participation and International Norm in Latin America
This writing has published in Jurnal Transformasi Global Universitas Brawijaya Volume 4, No: 01 2017
Access on http://transformasiglobal.ub.ac.id/index.php/trans/article/view/58
Access on http://transformasiglobal.ub.ac.id/index.php/trans/article/view/58
THE DEVELOPMENT OF INDIGENOUS
PEOPLE RIGHTS TO THEIR LAND THROUGH POLITICAL PARTICIPATION AND INTERNATIONAL
NORM
IN LATIN AMERICA
Tiffany Setyo Pratiwi
Staff Pengajar Program Studi Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Teknologi Yogyakarta
tiffany.pratiwi@staff.uty.ac.id
Abstract
This paper will explain
about how indigenous people as minority
group receive their recognition and accommodation by government, especially in implementation of international norm
that pertains to indigenous peoples and recognized in the United Nations
Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (UNDRIP) and Convention ILO
169. This paper will explore the issue in Latin Amerika region. To achieve the
objective of this paper, author will explain in two main themes: First, the
development of the political participation indigenous people in Latin American
states. Second, the rights of indigenous people to their ancestral land through
international norm FPIC (Free, Prior, and Informed Consent) that adopted in
Latin America states. I argue that the development of indigenous people rights to
their land in Latin America is supported by political participation of
indigenous people in the government system in Latin America states.
Keywords: indigenous people rights; international
norm; Latin America; political participation.
Abstrak
Artikel ini
akan menjelaskan tentang bagaimana masyarakat adat sebagai kelompok minoritas
menerima pengakuan dan akomodasi dari pemerintah, terutama dalam penerapan
norma internasional yang berkaitan dengan masyarakat adat dan diakui dalam
Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat (UNDRIP) dan Konvensi ILO 169
terhadap hak tanah adat. Artikel ini membahas permasalahan yang terjadi di
wilayah Amerika Latin. Artikel ini akan disusun kedalam 2 sub pembahasan: Pertama,
perkembangan partisipasi politik masyarakat adat di negara-negara Amerika
Latin. Kedua, hak masyarakat adat terhadap tanah leluhur mereka melalui norma
internasional FPIC (Free, Prior, dan Informed Consent) yang diadopsi di negara-negara
Amerika Latin. Akhirnya Penulis berpendapat bahwa perkembangan hak masyarakat
adat atas tanah mereka di Amerika Latin tak terlepas karena dukungan
partisipasi politik masyarakat adat dalam sistem pemerintahan di negara-negara
Amerika Latin.
Kata
Kunci: hak masyarakat adat; norma internasional; Amerika
Latin; partisipasi politik.
Reference:
Book:
Ahren, Mattias. 2016. Indigenous Peoples Status in the International Legal System. United Kingdom: Oxford University
Press.
Baranyi, Stephen. 2001. Land and
Development in Latin America. Canada: The North-South Institute.
Booth, John A. 2014. Latin
American Political Culture. London: SAGE.
Carmen, Andrea. 2010. The Right to Free, Prior, and
Informed Consent: A Framework for Harmonious Relations and New Processes for
Redress. In Jackie Hartley, Realizing The
United Nations Declaration. Canada: Purich Publishing Ltd.
Cleary, Edward L. Timothy J. Steigenga. 2004.
Resurgent voices in Latin America:
Indigenous People, Political Mobilization, and Religious Change. London:
Rutgers University Press.
Eisenberg, Avigail and Halev, Jeff Spinner. 2005. Minorities
Within Minorities: Equality, Rights and Diversity. United Kingdom: Cambridge
University Press.
Hall, Gillette. 2005. Indigenous Peoples, Poverty and Human Development in Latin America. New
York: Palgrave Macmillan.
Kurtz, Lester R. 2008. Encyclopedia of Violence,
Peace & Conflict: Volume 3. United Kingdom: Elsevier.
Kuprecht, Carolina. 2013. Indigenous People of Cultural Property
Claims. London: Springer.
Kymlicka, Will. 2017. The
Internationalization of minority rights. In Joshua Castellino, Global Minority Rights. London:
Routledge.
Lucero, Jose A. 2013. In Peter Kingstone, Routledge Handbook of Latin American
Politics. London: Routledge.
Malloy, Tove H. 2013. Minority Issues in Europe: Rights, Concepts, Policy. Germany: Frank
& Timme GmbH.
Rachel, Sieder. 2002. Multiculturalism
in Latin America: Indigenous Rights, Diversity, and Democracy. London:
Palgrave Macmillan.
Rodriguez, Luis. 2010. Political Participation System
Applicable in Indigenous People. In Marc Weller, Political Participation of Minorities: A Commentary of International
Standards and Practice. New York: Oxford University Press.
O’Toole, Gavin. 2014. Politics in Latin America. New York: Routledge.
IWGIA. 2001. Indigenous People Experience with Political Parties and Election.
Denmark: IWGIA Document.
Online:
Boosting indigenous peoples' political participation crucial for development, says UNDP (2012), link: http://www.undp.org/content/undp/en/home/presscenter/articles/2012/05/11/boosting-indigenous-peoples-political-participation-crucial-for-development-says-undp.html Accessed 8 December 2017
Indigenous People in Latin America, link: https://www.cepal.org/en/infografias/los-pueblos-indigenas-en-america-latina Accessed 3 December 2017.
Indigenous peoples in Latin America improve
political participation, but women lag behind, says UNDP, link: http://www.undp.org/content/undp/en/home/presscenter/pressreleases/2013/05/22/pueblos-indigenas-en-america-latina-pese-a-los-avances-en-la-participacion-politica-las-mujeres-son-las-mas-rezagadas-segun-el-pnud.html. Accessed 3 December 2017.
Beyond Numbers: The
Participations of Indigenous People in Parliament, link: http://archive.ipu.org/pdf/publications/indigenous-sur-en.pdf Accessed 6 Desember 2017
Report on indigenous political
representation: Introduction and summary (2017), link: https://theglobalamericans.org/2017/10/report-indigenous-political-representation-introduction-summary/ Accessed 8 December 2017
Langganan:
Postingan (Atom)